OM SWASTYASTU,
hallo teman-teman, ini adalah puisi esai saya yang pertama dengan Tema seorang pemimpin atau Ayah yang seharusnya melindungi anak nya namun malah sebaliknya. Menjual semua hak nya, reklamasi dimana-mana.
yaaah, selamat menyimak dan semoga bermanfaat. Jangan lupa kritik dan sarannya^^
yaaah, selamat menyimak dan semoga bermanfaat. Jangan lupa kritik dan sarannya^^
Ayah Tak Lindungi Kami
oleh : Ayu Devi Chrismayanti
Siang hari yang terik
Ketika panas membara
Badan kecil tak berdosa
Tertatih …
Bagai ranting tanpa pohon
Tanpa alas kaki
Hidup bagai kapal tanpa nahkoda
Meskipun mentari melepuh
Namun jiwa ini tiada mengeluh
Jerit tangis tak terhiraukan!
Begini hidup di negeri sendiri
Ketika panas membara
Badan kecil tak berdosa
Tertatih …
Bagai ranting tanpa pohon
Tanpa alas kaki
Hidup bagai kapal tanpa nahkoda
Meskipun mentari melepuh
Namun jiwa ini tiada mengeluh
Jerit tangis tak terhiraukan!
Begini hidup di negeri sendiri
Yang seharusnya …
Negeri ku tempat ku berlindung
Pulau ku tempat ku berteduh
Dimana badai itu kian datang menepis setiap dinding kehidupan
Disaat itu pula ku harus kehilangan mimpi-mimpi ku
Dimana aku temukan kesejahteraan?
Dimana aku dapatkan hidup selayak ini?
Tak ada cinta, tak ada kasih sayang
Bahkan tak ada seorang pun yang peduli
Negeri ku tempat ku berlindung
Pulau ku tempat ku berteduh
Dimana badai itu kian datang menepis setiap dinding kehidupan
Disaat itu pula ku harus kehilangan mimpi-mimpi ku
Dimana aku temukan kesejahteraan?
Dimana aku dapatkan hidup selayak ini?
Tak ada cinta, tak ada kasih sayang
Bahkan tak ada seorang pun yang peduli
Ketika ku temui cinta yang seindah ini
Saat ini pula aku dapat merasakan indahnya di cintai
Tak dapat ku pungkiri
Tak dapat ku akui
Hanya bisa ku lalui
Karena sesungguhnya aku tak mengerti apa arti dari ini semua
Ini hanya badai cinta yang datang sekejap dan kembali hilang
Terbang tertutup kabut egosiasi
Saat ini pula aku dapat merasakan indahnya di cintai
Tak dapat ku pungkiri
Tak dapat ku akui
Hanya bisa ku lalui
Karena sesungguhnya aku tak mengerti apa arti dari ini semua
Ini hanya badai cinta yang datang sekejap dan kembali hilang
Terbang tertutup kabut egosiasi
Langit negeri ku gelap, penuh keputus-asaan
Aku seolah hidup dalam negeri yang carut marut karena egosiasi
Mana jiwa pancasila ku?
Mana jiwa proklamasi negeri ku?
Kemana semangat Indonesia Raya?
Semuanya hilang, lenyap tersapu badai kebodohan negeri ini
Tak tersadar satu pun jiwa kepedulian bangsa
Yang hanya terpandang kepuasan diri sekejap
Aku seolah hidup dalam negeri yang carut marut karena egosiasi
Mana jiwa pancasila ku?
Mana jiwa proklamasi negeri ku?
Kemana semangat Indonesia Raya?
Semuanya hilang, lenyap tersapu badai kebodohan negeri ini
Tak tersadar satu pun jiwa kepedulian bangsa
Yang hanya terpandang kepuasan diri sekejap
Dalam kebimbangan dan ragu aku tetap melangkah
Dalam panas jalanan aku tetap merangkak
Polusi hanya tinggal polusi
Hidup di rumah seperti bara api
Korupsi tinggalah korupsi
Seperti berita yang tak pernah mati
Seperti kebodohan yang selalu terpelihara
Seperti manusia yang tak pernah tersadar
Karena sesungguhnya kebodohan itulah yang mereka pelihara
Dalam panas jalanan aku tetap merangkak
Polusi hanya tinggal polusi
Hidup di rumah seperti bara api
Korupsi tinggalah korupsi
Seperti berita yang tak pernah mati
Seperti kebodohan yang selalu terpelihara
Seperti manusia yang tak pernah tersadar
Karena sesungguhnya kebodohan itulah yang mereka pelihara
Sepoi angin sejukan jiwa yang bertepi
Bertepi antara hidup dan matinya
Bahwa sesungguhnya roda hidup terus berputar
Denyut jantung ku beratap pada nyawa mereka
Seandainya aku berkorban untuk mereka
Apa yang akan aku dapatkan?
Hidup dalam negeri sendiri penuh pengorbanan
Ayah sendiri pun menjual hak kita
Bertepi antara hidup dan matinya
Bahwa sesungguhnya roda hidup terus berputar
Denyut jantung ku beratap pada nyawa mereka
Seandainya aku berkorban untuk mereka
Apa yang akan aku dapatkan?
Hidup dalam negeri sendiri penuh pengorbanan
Ayah sendiri pun menjual hak kita
Aku berteriak seperti orang gila
Tapi tetap saja yang di atas melangkah begitu saja
Ada setitik harapan pada pemimpin yang bercahaya
Tetapi janji tinggalah janji
Biarlah janji itu yang ku bawa mati
Sampai kapan aku hidup di bawah janji mereka?
Sampai kapan aku bertahan menunggu janji mereka?
Apakah sampai nyawa ku tercabut oleh janji mereka?
Hanya sebuah wacana kehidupan
Tapi tetap saja yang di atas melangkah begitu saja
Ada setitik harapan pada pemimpin yang bercahaya
Tetapi janji tinggalah janji
Biarlah janji itu yang ku bawa mati
Sampai kapan aku hidup di bawah janji mereka?
Sampai kapan aku bertahan menunggu janji mereka?
Apakah sampai nyawa ku tercabut oleh janji mereka?
Hanya sebuah wacana kehidupan
Kapan negeri ku bersih dari egosiasi? KAPAN?!
Kapan hati nurani pemimpin negeri ini berbentuk hati? KAPAN?!
Akankah semuanya tinggal mimpi dan akan terhapus esok pagi?
Mimpi ku terlalu banyak berhamburan
Hanya mimpi dan apresiasi
Hanya ungkapan dan harapan
Hanya perkataan dan janji mereka yang menghantui jiwa ini
Dan kunjung terkabul
Tak kunjung terbukti
Hanya wacana kehidupan
Hanya realita perkataan
Dramatis negeri ini penuh sandiwara
Egosiasi tanpa sadar jiwa
Kapan hati nurani pemimpin negeri ini berbentuk hati? KAPAN?!
Akankah semuanya tinggal mimpi dan akan terhapus esok pagi?
Mimpi ku terlalu banyak berhamburan
Hanya mimpi dan apresiasi
Hanya ungkapan dan harapan
Hanya perkataan dan janji mereka yang menghantui jiwa ini
Dan kunjung terkabul
Tak kunjung terbukti
Hanya wacana kehidupan
Hanya realita perkataan
Dramatis negeri ini penuh sandiwara
Egosiasi tanpa sadar jiwa
Tak selembut mutiara dalam kerangka kemuliaan
Yang hanya batu bara dalam kantong negeri
Panasnya mengaburkan kepercayaan
Kekecewaan dan keputus-asaan
Tak seperti sutra yang membalut mimpi-mimpi kedamaian
Yang menyatakan mimpi dalam negeri menjadi kehidupan
Namun sebalikanya hanya kafan yang mengumbar
Mengumbar janji penuh keputus-asaan
kepercayaan yang kian menepis
Seolah rugi dan tak dapat di percaya
Biarpun semuanya telah berlalu
Namun berharap tak ada legenda yang tersisa
Sebab akan mudah terlukai
Terbengkelai menghantam ragu dan nestapa
Hidup-hidup rakyat kecil
Yang hanya batu bara dalam kantong negeri
Panasnya mengaburkan kepercayaan
Kekecewaan dan keputus-asaan
Tak seperti sutra yang membalut mimpi-mimpi kedamaian
Yang menyatakan mimpi dalam negeri menjadi kehidupan
Namun sebalikanya hanya kafan yang mengumbar
Mengumbar janji penuh keputus-asaan
kepercayaan yang kian menepis
Seolah rugi dan tak dapat di percaya
Biarpun semuanya telah berlalu
Namun berharap tak ada legenda yang tersisa
Sebab akan mudah terlukai
Terbengkelai menghantam ragu dan nestapa
Hidup-hidup rakyat kecil
Ayah tak lindungi negeri ini
Ayah menjual negeri ini
Reklamasi di negeri ku
Untuk apa ayah lakukan itu?
Untuk apa ayah gunakan negeri ini?
Seberapa mereka membeli negeri kita, Ayah?
Lebih pentingkah uang mereka dibanding keharmonisan negeri kita?
Setega itu Ayah lakukan ini
Menenggelamkan tanah kita
Menghapus cita-cita anak bangsa
Merelakan keindahan negeri ini untuk mereka
Sadar Ayah, ini negeri mu
Ini tempat mu berlindung
Ini tempat mu berteduh
Ini tempat mu di lahirkan
Dan ini pula tempat legendaris mu, Ayah!
Tempat dimana kau dilahirkan menjadi pemimpin kami
Tempat kami mengadu
Tempat kami bernaung diri
Meminta petunjuk mu
Meminta nasihat mu
Meminta perlindungan mu
Ayah menjual negeri ini
Reklamasi di negeri ku
Untuk apa ayah lakukan itu?
Untuk apa ayah gunakan negeri ini?
Seberapa mereka membeli negeri kita, Ayah?
Lebih pentingkah uang mereka dibanding keharmonisan negeri kita?
Setega itu Ayah lakukan ini
Menenggelamkan tanah kita
Menghapus cita-cita anak bangsa
Merelakan keindahan negeri ini untuk mereka
Sadar Ayah, ini negeri mu
Ini tempat mu berlindung
Ini tempat mu berteduh
Ini tempat mu di lahirkan
Dan ini pula tempat legendaris mu, Ayah!
Tempat dimana kau dilahirkan menjadi pemimpin kami
Tempat kami mengadu
Tempat kami bernaung diri
Meminta petunjuk mu
Meminta nasihat mu
Meminta perlindungan mu
Di bawah kekuasaan mu yang seharusnya negeri ini
merasakan kedamaian
Keindahan, keelokan, dan citra kebangsaan
Namun malah sebaliknya
Ayah jual tempat kami
Ayah jual hak-hak kami
Ayah tak pedulikan kehidupan kami
Reklamasi Ayah pentingkan
Kami menolak, Ayah!
Kami menolak Reklamasi mu!
Kau bukan Ayah ku lagi
Kau bukan Ayah yang kami harapkan
Ayah yang seharusnya melindungi kami dan negeri kami
Aku cinta negeri ini, tak ingin orang asing menjajahnya lagi
Ini reklamasi yang bertolak belakang
Ini negeri tempat kedamaian kami, bukan penjualan aset hak kalian
Keindahan, keelokan, dan citra kebangsaan
Namun malah sebaliknya
Ayah jual tempat kami
Ayah jual hak-hak kami
Ayah tak pedulikan kehidupan kami
Reklamasi Ayah pentingkan
Kami menolak, Ayah!
Kami menolak Reklamasi mu!
Kau bukan Ayah ku lagi
Kau bukan Ayah yang kami harapkan
Ayah yang seharusnya melindungi kami dan negeri kami
Aku cinta negeri ini, tak ingin orang asing menjajahnya lagi
Ini reklamasi yang bertolak belakang
Ini negeri tempat kedamaian kami, bukan penjualan aset hak kalian
Selama garuda belum dipandang sebagai Pancasila
Indonesia ku masih tetap berjuang
Selama garuda hanya hiasan dinding sekolah saja
Indonesia ku masih tetap berkabung
Selama garuda belum dapat terbang tinggi
Indonesia ku masih tetap merintih
Indonesia masih tetap INDONESIA!!!
Indonesia ku masih tetap berjuang
Selama garuda hanya hiasan dinding sekolah saja
Indonesia ku masih tetap berkabung
Selama garuda belum dapat terbang tinggi
Indonesia ku masih tetap merintih
Indonesia masih tetap INDONESIA!!!
Indonesia merdeka itu adalah harapan kami, yang
meminta perlindungan pancasila sebagai pegangan!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar